ads

Slider[Style1]

Style2

Kota Pesisir

Style3[OneRight]

Style4

Style5

PENGGUNAAN TANAH DI WILAYAH KOTA PESISIR

Indonesia dikenal sebagai negara yang tangguh dalam pelayaran, baik nasional maupun internasional, yang diperlihatkan dengan banyaknya kota-kota pesisir di Indonesia. Pertambahan jumlah penduduk di kota pesisir sejalan dengan sejarah peradaban suku bangsa yang bermukim di sepanjang pesisir di Indonesia. Jumlah kota pesisir di Indonesia (ibukota provinsi) berjumlah 24 kota (Gambar 1). Kota Banda Aceh, Medan, Padang, Bengkulu, Lampung, Pangkal Pinang dan Kota Tanjung Pinang terdapat di Pulau Sumatera (7 kota). Di Pulau Jawa terdapat Kota Serang, Jakarta, Semarang, dan Kota Surabaya (4 kota). Kota Denpasar, Mataram dan Kota Kupang untuk Kepulauan Sunda Kecil (3 kota). Di Maluku dan Papua terdapat Kota Ambon, Ternate, Manokwari dan Jayapura (4 kota). Di Sulawesi terdapat Kota Manado, Gorontalo, Palu, Kendari, Mamuju dan Kota Makassar (6 kota). Di Kalimantan tidak ada ibukota provinsi yang berada di pesisir. Kota pesisir di Indonesia terbagi 2 secara umum yakni masuk dikategori berada/berhadapan dengan laut dalam dan laut luar/depan. Laut luar/depan adalah laut yang langsung berhubungan dengan laut lepas atau samudera.

Faktanya pembangunan atau perkembangan kota pesisir di laut dalam Indonesia lebih maju dibandingkan kota pesisir yang berhadapan dengan laut luar/depan Indonesia. Kota pesisir di laut dalam terdapat di Kota Medan, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang dan Kota Lampung (di Pulau Sumatera 5 kota), Kota Serang, Jakarta, Semarang dan Kota Surabaya (di Pulau Jawa 4 kota), Kota Mataram dan Kota Kupang (di Kepulauan Sunda Kecil 2 kota), Kota Ambon dan Ternate (di Maluku 2 kota), Kota Kendari, Mamuju, Palu dan Kota Makasar (di Pulau Sulawesi 4 kota). Kota Padang, Bengkulu, Denpasar, Jayapura, Manokwari, Manado dan Gorontalo dikategorikan langsung berhadapan dengan samudera/laut lepas.

Pertambahan jumlah penduduk menyebabkan bertambah luasnya kota pesisir yang ada di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun 1971 berjumlah 119.208.229 jiwa, tahun 1990 meningkat menjadi 179.378.946 jiwa dan tahun 2000 penduduk Indonesia telah menjadi 205.754.808 jiwa. Tahun 2005 menurut Supas penduduk Indonesia menjadi 218.868.791 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak di Indonesia menurut Supas 2005 (sepuluh besar) adalah Provinsi Jawa Barat 38 juta jiwa (1), Provinsi Jawa Timur 36 juta jiwa (2), Provinsi Jawa Tengah 31 juta jiwa (3), Provinsi Sumatera Utara 12 juta jiwa (4), Provinsi Banten 9 juta jiwa (5), Provinsi DKI Jakarta 8 juta jiwa (6), Provinsi Sulawesi Selatan 7,5 juta jiwa (7), Provinsi Lampung 7 juta jiwa (8), Provinsi Sumatera Selatan 6 juta jiwa (9) dan sisanya masih dibawah angka 5 juta jiwa. (Lihat Tabel 1). Tahun 2010 hasil sensus penduduk tercatat yakni jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237.000.000 jiwa (BPS, 2010).

Penggunaan tanah adalah cerminan dari kehidupan masyarakat, maka penggunaan tanah di perkotaan akan sangat berbeda dengan penggunaan tanah di pedesaan. Penggunaan tanah di kota pesisir berbeda dengan penggunaan tanah di kota pedalaman, demikian pula dengan perdesaan di pesisir dan perdesaan di pedalaman, penggunaan tanah perdesaan juga berbeda. Perubahan penggunaan tanah, terutama meningkatnya penggunaan tanah permukiman dan pertanian akan mengurangi jumlah penggunaan tanah hutan. Kondisi ini akan berdampak pada peningkatan cemaran yang masuk ke dalam badan air atau sungai, dimana cemaran tersebut pada akhirnya masuk kedalam laut, terutama akan berdampak lebih dahulu pada kondisi lingkungan pantai di sekitar kota pesisir.


Perubahan penggunaan tanah di kawasan wilayah pesisir harus mendapat perhatian oleh Pemerintah daerah dalam merencanakan tata ruang kota atau wilayahnya. Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan kondisi tanah, akan mengakibatkan perusakan tanah secara tidak langsung dan dapat mempengaruhi ekosistem yang telah ada. Pembangunan sebuah kawasan setidaknya lebih memperhatikan pada dampak lingkungan yang akan ditimbulkan bukan penggunaan atau manfaat pembangunan itu semata. Selain itu Pembangunan juga harus berdasarkan kultur, budaya masyarakat di wilayah tersebut, sesuai kebutuhan masyarakat dan lingkungan. Oleh karena itu perlu berbagai pihak memperhatikan dan turut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan dan wilayahnya, khususnya wilayah pesisir yang setiap tahunnya mengalami abrasi dan pencemaran.

Hidup Masyarakat Pesisir

Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan. Baik nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan.

Bagi masyarakat nelayan, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai ”pedoman kehidupan”, referensi pola-pola perilaku sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Setiap gagasan dan praktik kebudayaan harus bersifat fungsional dalam kehidupan masyarakat. Jika tidak, kebudayaan itu akan hilang dalam waktu yang tidak lama. Kebudayaan haruslah membantu kemampuan survival masyarakat atau penyesuaian diri individu terhadap lingkungan kehidupannya. Sebagai suatu pedoman untuk bertindak bagi warga masyarakat, isi kebudayaan adalah rumusan dari tujuan-tujuan dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu, yang disepakati secara social. Hal ini terlihat dengan banyaknya budaya yang hamper sama dan berlangsung cukup lama di kawasan pesisir.

Dalam konteks hubungan eksploitasi sumber daya perikanan, masyarakat nelayan kita memerankan empat perilaku sebagai berikut: (1) mengeksploitasi terus-menerus sumber daya perikanan tanpa memahami batas-batasnya; (2) mengeksploitasi sumber daya perikanan, disertai dengan merusak ekosistem pesisir dan laut, seperti menebangi hutan bakau serta mengambil terumbu karang dan pasir laut; (3) mengeksploitasi sumber daya perikanan dengan cara-cara yang merusak (destructive fishing), seperti kelompok nelayan yang melakukan pemboman ikan, melarutkan potasium sianida, dan mengoperasikan jaring yang merusak lingkungan, seperti trawl atau minitrawl; serta (4) mengeksploitasi sumber daya perikanan dipadukan dengan tindakan konservasi, seperti nelayan-nelayan yang melakukan penangkapan disertai dengan kebijakan pelestarian terumbu karang, hutan bakau, dan mengoperasikan jaring yang ramah lingkungan.


Perilaku hidup masyarakat pesisir yang bersifat positif harus senantiasa dijaga dan dilestarikan. Perilaku hidup tersebut bukan hanya berdasarkan kebutuhan sesaat akan tetapi perilaku hidup yang penuh nilai, norma, keberlanjutan. Di sisi lain, pesisir sebagai “ruang tamu” wilayah daratan dan menjadi penghubung antara lautan dan daratan memiliki peran yang signifikan bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir. Di Negara kepualauan seperti Indonesia, sudah seharusnya pemanfaatan wilayah pesisir perlu dioptimalisasi dengan baik.

Masa Depan Wilayah Pesisir Indonesia


Indonesia adalah Negara kepulauan, bahari, maritime. Perjuangan Indonesia menjadikan laut dalam (perairan dalam) sebagai wilayah kedaulatan NKRI tidaklah mudah, butuh perjuangan ektra di sunia Internasional. Maka tidak heran baru sekarang kedaulatan tersebut benar-benar terlihat ditegakkan dengan di bomnya kapal-kapal asing yang menangkap ikan secara illegal di perairan Indonesia.

Letak geografis ini menjadikan wilayah tepi laut (pesisir) baik laut dalam kawasan NKRI maupun laut luar menjadi penting. Wilayah pesisir mempunyai peranan penting sejak dahulu, sebelum bangsa Eropa datang berdagang ke Nusantara (Indonesia). Dimana wilayah pesisir menjadi Bandar, pelabuhan, pusat perekonomian. Hal ini dapat dilihat dari padatnya populasi dan aktivitas perdagangan wilayah pesisir sampai sekarang.

Sayangnya, perhatian bangsa mairitim yang berjiwa bahari ini lupa (schizophrenia) terhadap primodial kulturalnya. Semboyang bahwa “nenek moyangku seorang pelaut” bukanlah isapan jempol. Bangsa Nusantara berabad-abad bahkan ratusan abad sudah menjadi pelaut ulung yang memposisikan laut sebagai wilayah kerjanya dan pesisir sebagai tempat tinggalnya. Cara pandang dan cara berpikir inilah yang saat ini sangat jarang kita jumpai. Dengan mengenal lebih dekat wilayah, budaya, kultur, masyarakat kota pesisir, mungkin kita akan menemukan jati diri bangsa ini sesungguhnya. Sebaiknya pembangunan dan pengembangan wilayah pesisir bukan hanya masalah infrastruktur materiil tetapi juga immaterial, yiatu jiwa masyarakat pesisir.


Menurut Prof. Dr. Anita Firmanti dari Puslitbang Permukiman bahwa di masa depan tantangan yang dihadapi oleh kota-kota pesisir di Indonesia akan semakin berat seiring dengan dampak perubahan iklim dan bencana geologi yang dapat muncul sewaktu-waktu. Indonesia memiliki lebih dari 48 kota pesisir yang dihuni oleh 50% populasi penduduk di negeri ini. Oleh karenanya sangat penting bagi kita untuk memikirkan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh kota-kota tersebut.

Wilayah Pesisir

Wilayah pesisir mempunyai karakteristik yang unik, berbeda dengan wilayah daratan. Wilayah pesisir merupakan wilayah perbatasan antara daratan dan lautan, jadi memilki dua akses antara daratan dan lautan. Kelebihan akses ini, menciptakan kekhasan tersendiri ketika menjadi sebuah kota. Selain mempunyai kelebihan akses, wilayah pesisir juga mempunyai masalah akut, yaitu abrasi, sudah sering kita mendengar sebuah daerah hilang karena abrasi, dari pesisirlah daratan mulai menghilang sedikit demi sedikit. Wilayah pesisir yang belum terjamah oleh banyak orang akan berbda dengan wilayah pesisir yang sering dikunjungi orang. Kemudian, wilayah pesisir yang strategis lama kelamaan akan menjadi sebuah kota yang unik, dimana mayoritas aktifitas atau tulang punggung sebuah daerah terletak di kawasan pesisir, daerah ini kemudian kita sering disebut Kota Pesisir (Waterfront City) atau Kota Pelabuhan.
Indonesia adalah Negara Kepulauan, sudah seharusnya Indonesia memanfaatkan secara optimal wilayah pesisir sebagai pusat transaksi ekonomi dan mobilitas perdagangan. Selain itu wilayah pesisir juga dapat difungsikan sebagai penghubung antar satu pulau ke pulau satu ke pulau yang lainnya. Selain itu, kota-kota besar di Indonesia saat ini juga memiliki Bandar atau wilayah pesisir yang besar sebagai perputaran gerak ekonomi baik skala mikro maupun makro. Fungsi utama wilayah pesisir salah satunya adalah pelabuhan. Di Indonesia banyak sekali pelabuhan yang belum dioptimalkan oleh Pemerintah. Rencana pemerintah untuk menjadi poros maritime dunia dengan membuat tol laut, perlu diapresiasi, tinggal bagaimana mengoptimalkan dan mengaplikasikan ide tersebut di wilayah pesisir, patut ditunggu.


Memanusiakan manusia

Manusia di era industri dan era teknologi berubah fungsi. sebagian manusia berperan sebagai penemu kemajuan teknologi industri, mesin, obat, alat dan sebagainya. dan sebagian manusia yang lainnya menggunakan produk kemajuan teknologi industri tersebut untuk lebih berdaya. dan mungkin sebagian besar manusia lainnya menjadi korban baik positif maupun negatif dari produk kemajuan teknologi industri tersebut. lalu bagaimana mansuai tipe ketiga bersikap dan berprilaku atas kemajuan teknologi industri ini?

BERAPA LAMA KITA BISA HIDUP

BERAPA LAMA KITA BISA HIDUP ?

Sing: "berakit-rakit kita kehulu, berenang kita ketepian,
bersakit dahulu senang pun tak datang, malah mati kemudian.."

hmm...lagu diatas cukup populer dan cukup logis..
kalau kita berusaha-berusaha terus agar bisa menikmati masa tua yang nyaman tapi ternyata umur kita tidak sampai ke masa tua bagaimana?
kita tahu bahwa umur merupakan rahasia dari Tuhan, tapi adakah cara sains untuk bisa memprediksikan berapa lama kita bisa hidup?

tentu saja ada ! where there is a will, there is a way...

semua makhluk hidup pastilah akan mati, itu sudah takdir, tapi mengapa ??
apabila kita singkirkan faktor kecelakaan maka jawabannya adalah karena kita menua.
tubuh kita terdidri dari kumpulan sel dan makhluk hidup lainnya juga. ketika kita telah mencapai usia dewasa (baligh) maka proses penuaan terjadi
proses ini disebut Senescence.dalam proses ini semua organ tubuh semakin melemah, daya tahan tubuh untuk memerangi penyakit semakin menurun, lalu sel-sel kita berhenti
memperbanyak diri dan perlahan mati.

lalu muncul pertanyaaan lain. mengapa sel-sel kita berhenti memperbanyak diri ?
sel-sel berhenti membelah diri setelah selesai membelah diri pada jumlah tertentu.
jumlah maksimum pembelahan diri sel disebut Hayflick Limit, tiap makhluk memiliki jumlah HL yang berbeda seperti tikus yang hanya bisa hidup 2-3 tahun atau kura-kura
yang umurnya bisa mencapai 150 tahun.

ok.. jadi sel memiliki batas jumlah pembelahan dirinya tapi apa yang menyebabkannya ?

penasaran kan?? hehe.. ini akan menarik !

sel ternyata memiliki sebuah program  yang memerintahkannya untuk berhenti membelah diri, program ini ada didalam sel itu sendiri yaitu dalam kromosom DNA.
dalam kromosom ada sebuah enzim yang dinamakan Telomerase yang berfungsi melindungi kromosom itu sendiri agar tidak rusak.
dalam setiap proses pembelahan diri sedikit Telomerase akan hilang, begitu seterusnya sampai habis dan akhirnya sel tidak bisa membelah diri lagi.
lain halnya dengan sel kangker yang bisa memproduksi telomerase sendiri karenanya sel kangker akan terus tumbuh tak terkendali menjadi kangker ganas atau tumor.

jadi jika masa hidup kita sebenarnya sudah terprogram dalam kromosom, bagaimana cara mengetahuinya ?
untuk mengetahuinya secara pasti akan sulit tapi dengan melihat ke riwayat leluhur kita yaitu berapa umur kakek atau orang tua kita bisa menjadi prediksi berapa lama
kita bisa hidup.

jadi sekarang kita tahu prediksi berapa lama kita bisa hidup benar...? mau dapat diskon perpanjangan umur...???
tapi ada syaratnya :
dalam sejumlah penelitian orang yang gaya hidupnya baik, melakukan olahraga teratur, menjadi vegetarian,tidak merokok dan minum alkohol memiliki usia yang 10 % sampai 15% lebih
panjang dibanding usia rata-rata orang lainnya, tidak percaya ??? well... silahkan buktikan sendiri... :)

stay curious


Top