Indonesia adalah Negara kepulauan, bahari, maritime. Perjuangan
Indonesia menjadikan laut dalam (perairan dalam) sebagai wilayah kedaulatan
NKRI tidaklah mudah, butuh perjuangan ektra di sunia Internasional. Maka tidak
heran baru sekarang kedaulatan tersebut benar-benar terlihat ditegakkan dengan
di bomnya kapal-kapal asing yang menangkap ikan secara illegal di perairan
Indonesia.
Letak geografis ini menjadikan wilayah tepi laut
(pesisir) baik laut dalam kawasan NKRI maupun laut luar menjadi penting. Wilayah
pesisir mempunyai peranan penting sejak dahulu, sebelum bangsa Eropa datang berdagang
ke Nusantara (Indonesia). Dimana wilayah pesisir menjadi Bandar, pelabuhan,
pusat perekonomian. Hal ini dapat dilihat dari padatnya populasi dan aktivitas
perdagangan wilayah pesisir sampai sekarang.
Sayangnya, perhatian bangsa mairitim yang berjiwa bahari
ini lupa (schizophrenia) terhadap primodial kulturalnya. Semboyang bahwa “nenek
moyangku seorang pelaut” bukanlah isapan jempol. Bangsa Nusantara berabad-abad
bahkan ratusan abad sudah menjadi pelaut ulung yang memposisikan laut sebagai
wilayah kerjanya dan pesisir sebagai tempat tinggalnya. Cara pandang dan cara
berpikir inilah yang saat ini sangat jarang kita jumpai. Dengan mengenal lebih
dekat wilayah, budaya, kultur, masyarakat kota pesisir, mungkin kita akan
menemukan jati diri bangsa ini sesungguhnya. Sebaiknya pembangunan dan
pengembangan wilayah pesisir bukan hanya masalah infrastruktur materiil tetapi
juga immaterial, yiatu jiwa masyarakat pesisir.
Menurut Prof. Dr. Anita Firmanti dari Puslitbang
Permukiman bahwa di masa depan tantangan yang dihadapi oleh kota-kota pesisir
di Indonesia akan semakin berat seiring dengan dampak perubahan iklim dan
bencana geologi yang dapat muncul sewaktu-waktu. Indonesia memiliki lebih dari
48 kota pesisir yang dihuni oleh 50% populasi penduduk di negeri ini. Oleh
karenanya sangat penting bagi kita untuk memikirkan solusi atas permasalahan
yang dihadapi oleh kota-kota tersebut.
Tidak ada komentar: